Jumat, 29 Oktober 2021

Teknologi Bluetooth

 Bluetooth merupakan sebuah teknologi berjenis wireless atau nirkabel. Teknologi ini dikembangkan oleh Bluetooth SIG atau Bluetooth Special Interest Group. Bluetooth berguna untuk memindahkan data dari satu perangkat ke perangkat lainnya tanpa memerlukan kabel. Jarak yang diperlukan Bluetooth untuk dapat berkomunikasi antar perangkat yaitu antara 1 hingga 100 meter.

Sebuah perangkat Bluetooth dapat terhubung hingga ke tujuh perangkat. Saat ini teknologi Bluetooth telah dibenamkan dalam banyak perangkat elektronik, seperti smartphone, laptop, headphone, dan lain-lain. Pada smartphone misalnya, fitur Bluetooth memungkinkan kita untuk mengirimkan file berupa gambar, video, musik, dan lainnya.

Bagaimana Bluetooth Bekerja?

harga headset Bluetooth

Bluetooth mengirim dan menerima gelombang radio di sebuah band dengan 79 frekuensi (saluran) yang berbeda. Gelombang ini juga berpusat pada jalur 2,45 GHz, terpisah dengan radio, televisi, dan telepon seluler.

Perangkat Bluetooth otomatis mendeteksi dan terhubung satu sama lain. Perangkat ini juga bisa saling terhubung dengan beberapa perangkat  (biasanya delapan) dalam satu waktu bersamaan. Perangkat-perangkat yang terhubung tersebut tidak saling mengganggu karena masing-masing menggunakan salah satu dari 79 saluran yang ada.

Bluetooth menggunakan daya yang sangat kecil karena teknologi ini harus tetap saling terhubung dengan jangkaun jarak yang pendek. Secara teoritis juga, penggunaan Bluetooth lebih aman daripada jaringan nirkabel yang beroperasi dalam rentang yang lebih panjang, seperti Wi-Fi misalnya.


Kapan Teknologi Bluetooth Diciptakan?

Bluetooth

Teknologi Bluetooth sudah muncul sejak beberapa dekade yang lalu. Teknologi ini pertama kali diinisiasi oleh Nils Rydbeck dan Johan Ullman pada 1989. Nama Bluetooth sendiri diambil dari julukan raja Viking yang memimpin Denmark pada tahun 958 hingga tahun 970 Masehi. Raja Viking tersebut bernama Harald Bluetooth.

Dari waktu ke waktu teknologi Bluetooth terus mengalami perkembangan. Versi awal Bluetooth yang dikenalkan adalah versi 1.0 dan terus mengalami pembaruan. Lalu ada berapa jenis-jenis Bluetooth berdasarkan versinya yang telah dikeluarkan hingga saat ini?

Nah, untuk menemukan jawaban tersebut saat ini Carisinyal akan membahas jenis-jenis Bluetooth berdasarkan versinya. Langsung saja cek berikut ini.

1. Bluetooth 1.0 dan 1.0B

Bluetooth 1

Versi awal dari teknologi Bluetooth ini memiliki perkembangan yang kurang baik. Banyaknya permasalahan yang dimiliki Bluetooth versi ini menyebabkan pabrikan kesulitan membuat teknologi tersebut beroperasi di produk-produk mereka. Bisa dibilagn, versi ini kurang begitu "menggigit' secara teknologi.

2. Bluetooth 1.1

Bluetooth 1.1

Versi ini muncul dengan perbaikan dari versi Bluetooth sebelumnya. Selain itu, Bluetooth 1.1 juga telah memiliki standar yang dinamakan IEEE 802.15.1-2002.

3. Bluetooth 1.2

Bluetooth 1.2

Dibanding tiga versi Bluetooth sebelumnya, Bluetooth 1.2 memiliki banyak keunggulan. Pada prakteknya Bluetooth versi ini memiliki kecepatan transmisi yang lebih tinggi, yaitu hingga 721 Kbit per detik. Versi ini juga memungkinkan penggunanya untuk menemukan koneksi Bluetooth lain lebih cepat.

4. Bluetooth 2.0 + EDR

Bluetooth 2.0 + edr

Dengan teknologi EDR (Enhanced Data Rate) yang dimilikinya, Bluetooh versi 2.0 memiliki transfer data yang lebih cepat. Walaupun teknologi EDR memiliki kecepatan 3 Mbit per detik, namun transfer data maksimum pada Bluetooth versi ini adalah 2.1 Mbit per detik. Bluetooth versi 2.0 +EDR hadir pada tahun 2004.

5. Bluetooth 2.1 + EDR

Bluetooth

Tiga tahun berselang, versi Bluetooth yang lebih tinggi hadir, yaitu versi 2.1 + EDR. Teknologi utama pada Bluetooth versi ini adalah SSP atau Secure Simple Pairing. Dengan SPP pengalaman menggunakan Bluetooth jadi lebih baik, terutama dalam hal pairing dan keamanan.

Teknologi lain yang hadir pada Bluetooth versi ini adalah EIR atau Extended Inquiry Response. Teknologi ini membantu pengguna mengetahui informasi perangkat yang akan dihubungkan sebelum koneksi dimulai. Selain itu, EIR juga membantu perangkat mengurangi konsumsi daya pada low-power mode.

6. Bluetooth 3.0 + HS

Bluetooth 3.0 + HS

Bluetooth versi 3.0 + HS hadir dua tahun setelah perilisan versi 2.1 + EDR. HS pada Bluetooth versi ini adalah singkatan dari High Speed yang punya teknologi link 802.11. Selain itu, Bluetooth versi 3.1 + HS memiliki fitur baru yang disebut AMP atau Alternative MAC/PHY.

Fitur AMP merupakan teknologi dukungan untuk link 802.11 yang dapat membantu pengguna mentransfer data lebih cepat lagi. Kecepatan transfer yang dimiliki Bluetooth versi ini mencapai angka hingga 24 Mbit per detik.

7. Bluetooth 4.0 + LE

Bluetooth 4.0 LE

Selanjutnya ada Bluetooth versi 4.0 + LE atau dikenal dengan Bluetooth Low Energy. Bluetooth Low Engergy ini jadi pondasi teknologi ke versi berikutnya. Keunggulan utama dari Bluetooth versi ini adalah konsumsi energinya yang rendah. Karena itu, perangkat yang menggunakan Bluetooth versi 4.0 + LE membantu baterai atau listrik jadi lebih hemat.


Vesi yang diperkenalakan pertama kali di Juni 2010 ini dapat menjangkau area yang luas hingga 100 meter. Selain itu, pengguna juga dapat menikmati kecepatan transfer hingga 1 Mbps dan kemanan yang lebih terkontrol dibanding dengan Bluetooth versi sebelumnya.

8. Bluetooth 4.1

Bluetooth 4.1
*

Bluetooth versi 4.1 yang hadir pada 2013 ini dapat mengelola daya lebih baik (lebih hemat daya dibanding versi sebelumnya). Perangkat yang mengadopsi Bluetooth versi dapat secara otomatis menghidupkan dan mematikan koneksi Bluetooth sesuai dengan power plan.

Jenis-jenis Bluetooth berdasarkan versi sebelumnya seringkali terganggu dengan teknologi nirkabel lainnya seperti oleh koneksi 4G LTE. Namun pada pengembangan Bluetooth yang terbaru telah dibuat untuk bisa mengatasi masalah tersebut. Bluetooth versi 4.1 ini diperkenalkan pada 4 Desember 2013.

9. Bluetooth 4.2

Bluetooth 4.2

Hampir setahun setelah perilisan Bluetooth versi 4.1, Bluetooth versi 4.2 juga diluncurkan ke publik. Beberapa peningkatan yang dikembangkan pada Bluetooth versi ini adalah pada kecepatan dan keamanan yang lebih tinggi. Bahkan disebut-sebut kecepatan unduh Bluetooth versi 4.2 meningkat 2,6 kali dibanding Bluetooth versi sebelumnya.

10. Bluetooth 5.0

jenis jenis bluetooth 5.0

Ini adalah versi Bluetooth yang dikenalkan pada 16 Juni 2016. Bluetooth 5.0 dirancang secara khusus untuk menyediakan komunikasi yang aman tanpa banyak gangguan. Fitur-fitur yang terdapat pada Bluetooth versi terbaru ini juga difokuskan pada teknologi IoT atau Internet of Things yang sedang berkembang.

Bluetooth versi 5.0 juga memiliki peningkatan yang siginifikan dibanding Bluetooth versi lama, seperti pada jangkauan yang lebih luas, transfer data yang lebih cepat, serta mampu membawa ukuran data yang lebih besar. Dan untuk kebutuhan marketing, Bluetooth versi 5.0 ini cukup disebut dengan Bluetooth 5 (tidak 5.0 seperti pada Bluetooth versi 4.0).

Contoh perangkat smartphone yang sudah menggunakan teknologi Bluetooth 5 adalah Samsung Galaxy S8, iPhone 8, iPhone 8 Plus, dan iPhone X.

Nah, itulah jenis-jenis Bluetooth berdasarkan versinya. Teknologi Bluetooth yang dibenamkan pada setiap perangkat tentunya berbeda-beda. Seiring berjalannya waktu dan teknologi yang ditawarkan pada setiap perangkat, versi Bluetooth yang ditanamkan juga bisa lebih tinggi.

11. Bluetooth 5.1

bluetooth 5.1

Bluetooh 5.1 diperkenalkan pada Januari 2019. SIG memperkenalkan Bluetooth sebagai teknologi yang secara spesial hadirkan komunikasi yang aman tanpa banyak gangguan. Hal tersebut dapat dilihat dari berbagai fitur yang terdapat pada Bluetooth 5.1 yang lebih mengutamakan teknologi IoT atau Internet of Things yang sedang berkembang.

Pada Bluetooth 5.1, fitur yang ada di Bluetooth 5.0 tetap hadir. Namun, pengguna dapat menenentukan dari mana arah sinyal dikirim. Ada dua metode dalam menentukan arah. Yang pertama ada "Angle of Arrival" (AoA) dan yang kedua "Angle of Departure" (AoD).

Dengan metode ini, salah satu dari dua perangkat yang terhubung harus mengarahkan antera untuk mengirimkan data. Data yang diterima antena nantinya dapat digunakan untuk mengidentifikasi arah sinyal Bluetooth berasal.

Selain itu, Bluetooth 5.1, dapat mengoptimalkan fitur Generic Attributes (GATT). Dengan pengoptimalan ini, Bluetooth 5.1 dapat yempercepat waktu sinkronisasi dengan perangkat sasaran yang dapat terjadi karena adanya peningkatan kecepatan transmisi.

12. Bluetooth 5.2

bluetooth 5.2
*

Bluetooth 5.2 merupakan versi Bluetooth yang fokus pada peningkatan fitur Bluetooth LE atau Low Energy. Versi ini diperkenalkan pada 2020 dengan menawarkan sejumlah fitur seperti LE Audio, LE Power Control, dan Enhanced Attribute Protocol (EATT).

LE Audio hadirkan kemampuan codec audio berkualitas tinggi dan berdaya rendah yang disebut dengan Low Complexity Communications Coded (LC3) atau Kode Komunikasi Kompleksitas Rendah, Berkat teknologi ini, data yang terkirim memiliki kualitas tinggi meski pada kecepatan yang rendah.

LE Audio juga memungkinkan streaming audio dalam berbagai bahasa. Selain itu, kehadirna LE Audio bakal berpengaruh besar pada alat bantu dengar Bluetooth. Hal ini karena alat bantu dengar membutuhkan konsumsi daya yang rendah dan efisien.

Yang kedua adalah LE Power Control. Ini adalah sebuah fitur cerdas yang dapat memberikan kemampuan pada perangkat dengan BluetootH 5.2 agar dapat memberi sinyal ke perangkat lain yang kekuatan sinyal yang diterima terlalu tinggi atau terlalu rendah, Nantinya, perangkat akan memintar agar perangkat lain yang terhubung dapat menyesuaikan kekuatan transmisi.

Yang ketiga ada Enhanced Attribute Protocol (EATT) yang merupakan fitur yang menarik. Pasalnya, fitur ini dapat meningkatkan kemampuan protokol Bluetooth sehingga memungkinkan transfer data dilakukan bersamaan. Selain itu, berkat teknologi ini, latensi pengiriman berkurang karena tidak lagi membutuhkan satu aplikasi untuk menunggu aplikasi sebelumnya selesai.

Jenis-jenis Bluetooth berdasarkan versinya ini pastinya akan terus berkembang hingga versi yang lebih baru dan lebih hebat diciptakan. Dalam beberapa tahun ke depan versi Bluetooth terbaru mungkin akan diperkenalkan dan dibenamkan dalam perangkat masa depan.


https://carisinyal.com/jenis-jenis-bluetooth/

Perbandingan Protocol Routing

 





Internet tersusun atas banyak AS. Bayangkan internet itu seperti puzzle, maka ASAS adalah potongan puzzlenya. Dan di internet ada ribuan AS. AS atau Autonomous System sendiri adalah kumpulan router didalam suatu authority yang sama. 

Interior Gateway Protocol (IGP) digunakan untuk routing dalam sebuah AS (IntraAS). IGP digunakan untuk jaringan internal dalam sebuah perusahaan, organisasi atau service provider. IGP juga dibagi menjadi 2 jenis: 

- Distance Vector 

Sesuai namanya, ada 2 karakteristik utama dalam penentuan routenya. 

Distance = jauhnya source network menuju destination berdasarkan metric. Metric dihitung dari hop count, cost, bandwidth, delay, dll. 

Vector = direction atau arah dari next hop router untuk menuju ke destination. 

Protocol jenis Distance Vector hanya mengetahui route dan metric untuk menuju destination tertentu. Protocol tersebut tidak mempunyai informasi tentang map jaringan atau topologi secara keseluruhan.

Yang termasuk protocol routing distance vector: RIPv1, RIPv2, IGRP dan EIGRP. 

- Link-State 

Protocol jenis link-state mengetahui topologi jaringan secara keseluruhan dengan mengumpulkan informasi dari setiap router. Untuk jaringan dengan skala yang luas (large network), link-state didesign secara hierarchical atau dibagi menjadi area-area. Area yang harus ada pada link-state adalah area 0 atau backbone. Pembagian menjadi area-area ini bertujuan mengurangi resource router dengan setiap area mempunyai table routing yang berbeda dengan area yang lain. 

Yang termasuk protocol routing link-state: OSPF dan IS-IS. 

Exterior Gateway Protocol (EGP) digunakan untuk routing antar AS (Inter AS). Satu-satunya protocol EGP adalah BGP. BGP merupakan protocol berjenis path-vector. Route yang dihasilkan dari BGP memuat attribute as-path. AS Path adalah urutan AS Number yang dilewati suatu route untuk sampai ke destination

 Cisco proprietary 

 Advanced distance vector/hybrid routing protocol 

 Using DUAL Algorithm. 

 Multicast or unicast for exchange information use port 88 

 Administrative distance 90 

 Classless routing protocol support VLSM/CIDR. 

 Support IPv6 

 Rich metric (bandwidth, delay, load and reliability) 

 Very fast convergence 

 Equal and Unequal Load balancing 

 100% loop-free













 Open Standard. 
 Link-State routing protocol. 
 Using SPF/Dijkstra Algorithm. 
 Multicast for exchange information use port 89. 
 Administrative distance 110. 
 Classless routing protocol support VLSM/CIDR. 
 Support IPv6. 
 Metric using cost. 
 Fast convergence. 
 Equal load balancing only. 
 Using areas (backbone area and non-backbone areas)













Dynamic Routing Overview

 










Default Routing

 Default routing sebenarnya masuk dalam static routing. Biasa digunakan untuk routing ke internet. Pada tabel routing, default routing selalu berada paling bawah dan selalu menjadi last preferred (pilihan terakhir).










Perkembangan Teknologi Sensor Teknik Jaringan Komputer dan Telekomunikasi

 


1.     Pengertian Sensor

Sensor adalah perangkat yang digunakan untuk mendeteksi perubahan besaran fisik seperti tekanan, gaya, besaran listrik, cahaya, gerakan, kelembaban, suhu, kecepatan dan fenomena-fenomena lingkungan lainnya. Setelah mengamati terjadinya perubahan, Input yang terdeteksi tersebut akan dikonversi mejadi Output yang dapat dimengerti oleh manusia baik melalui perangkat sensor itu sendiri ataupun ditransmisikan secara elektronik melalui jaringan untuk ditampilkan atau diolah menjadi informasi yang bermanfaat bagi penggunanya.


2.   Klasifikasi Sensor


a.   Sensor Pasif (Passive Sensor)

Sensor Pasif adalah jenis sensor yang dapat menghasilkan sinyal output tanpa memerlukan pasokan listrik dari eksternal. Contohnya Termokopel (Thermocouple) yang menghasilkan nilai tegangan sesuai dengan panas atau suhu yang diterimanya.


b.   Sensor Aktif (Active Sensor)

Sensor Aktif adalah jenis sensor yang membutuhkan sumber daya eskternal untuk dapat beroperasi. Sifat fisik Sensor Aktif bervariasi sehubungan dengan efek eksternal yang diberikannya. Sensor Aktif ini disebut juga dengan Sensor Pembangkit Otomatis (Self Generating Sensors).


c.   Sensor Analog

Sensor Analog adalah sensor yang menghasilkan sinyal output yang kontinu atau berkelanjutan.  Sinyal keluaran kontinu yang dihasilkan oleh sensor analog ini sebanding dengan pengukuran. Berbagai parameter Analog ini diantaranya adalah suhu, tegangan, tekanan, pergerakan dan lain-lainnya. Contoh Sensor Analog ini diantaranya adalah akselerometer (accelerometer), sensor kecepatan, sensor tekanan, sensor cahaya dan sensor suhu.


d.   Sensor Digital

Sensor Digital adalah sensor yang menghasilkan sinyal keluaran diskrit. Sinyal diskrit akan non-kontinu dengan waktu dan dapat direpresentasikan dalam “bit”. Sebuah sensor digital biasanya terdiri dari sensor, kabel dan pemancar. Sinyal yang diukur akan diwakili dalam format digital. Output digital dapat dalam bentuk Logika 1 atau logika 0 (ON atau OFF).



3.   Jenis-Jenis Sensor

a.     Akselerometer (Accelerometer)

Sensor Akselerometer adalah sensor yang mendeteksi perubahan posisi, kecepatan, orientasi, goncangan, getaran, dan kemiringan dengan gerakan indra. Akselerometer analog ini dapat digolongkan lagi menjadi beberapa yang berbeda berdasarkan variasi konfigurasi dan sensitivitas. Berdasarkan pada sinyal keluaran, Akselerometer analog menghasilkan tegangan variabel konstan berdasarkan jumlah percepatan yang diterapkan pada Akselerometer. Selain Akselerometer Analog, Akselerometer ini juga digital.


b.   Sensor Cahaya (Light Sensor)

Sensor Cahaya atau Light Sensor adalah Sensor analog yang digunakan untuk mendeteksi jumlah cahaya yang mengenai Sensor tersebut. Sensor cahaya analog ini dapat diklasifikasikan lagi menjadi beberapa jenis seperti foto-resistor, Cadmium Sulfide (CdS), dan fotosel.

Light dependent resistor atau LDR dapat digunakan sebagai sensor cahaya analog yang dapat digunakan untuk menghidupkan dan mematikan beban secara otomatis berdasarkan intensitas cahaya yang diterimanya.  Resistansi LDR akan meningkat apabila intensitas cahaya menurun. Sebaliknya, Resistansi LDT akan menurun apabil intensitas cahaya yang diterimanya bertambah.

c.   Sensor Suara (Sound Sensor)

Sensor Suara adalah Sensor analog yang digunakan untuk merasakan tingkat suara. Sensor suara analog ini menerjemahkan amplitudo volume akustik suara menjadi tegangan listrik untuk merasakan tingkat suara. Proses ini memerlukan beberapa sirkuit, dan menggunakan mikrokontroler bersama dengan Mikrofon untuk menghasilkan sinyal output analog.


d.   Sensor Tekanan (Pressure Sensor)

Sensor Tekanan atau Pressure Sensor adalah Sensor yang digunakan untuk mengukur jumlah tekanan yang diterapkan pada sebuah sensor. Sensor tekanan akan menghasilkan sinyal keluaran analog yang sebanding dengan jumlah tekanan yang diberikan. Sensor piezoelektrik adalah salah satu jenis sensor tekanan yang dapat menghasilkan sinyal tegangan keluaran yang sebanding dengan tekanan yang diterapkan padanya.


e.   Sensor Suhu (Temperature Sensor)

Sensor Suhu atau Temperature Sensor adalah Sensor tersedia secara luas baik dalam bentuk sensor digital maupun analog. Ada berbagai jenis sensor suhu yang digunakan untuk aplikasi yang berbeda. Salah satu sensor suhu adalah termistor, yaitu resistor peka termal yang digunakan untuk mendeteksi perubahan suhu. Apabila Suhu meningkat, resistansi listrik dari termistor akan meningkat juga. Sebaliknya, jika suhu menurun, maka resistansi juga akan menurun.


f.    Sensor Ultrasonik (Ultrasonic Sensor)

Sensor Ultrasonik adalah jenis sensor non-kontak yang dapat digunakan untuk mengukur jarak serta kecepatan suatu benda. Sensor Ultrasonik bekerja berdasarkan sifat-sifat gelombang suara dengan frekuensi lebih besar daripada rentang suara manusia. Dengan menggunakan gelombang suara, Sensor Ultrasonik dapat mengukur jarak suatu objek (mirip dengan SONAR). Sifat Doppler dari gelombang suara dapat digunakan untuk mengukur kecepatan suatu objek.


g.   Sensor Giroskop (Gyroscope sensor)

Sensor Giroskop adalah sensor yang digunakan untuk merasakan dan menentukan orientasi dengan bantuan gravitasi bumi. Perbedaan utama antara Sensor Akselerometer dan Giroskop adalah bahwa Giroskop dapat merasakan rotasi di mana akselerometer tidak bisa.


h.   Sensor Efek Hall (Hall Effect Sensor)

Sensor Efek Hall atau Hall Effect Sensor adalah sensor yang dapat mengubah informasi magnetik menjadi sinyal listrik untuk pemrosesan rangkaian elektronik selanjutnya. Sensor Efek Hall ini sering digunakan sebagai sensor untuk mendeteksi kedekatan (proximity), mendeteksi posisi (positioning), mendeteksi kecepatan (speed), mendeteksi pergerakan arah (directional) dan mendeteksi arus listrik (current sensing).


i.    Sensor Kelembaban (Humidity Sensor)

Sensor Kelembaban atau Humidity Sensor merupakan sensor yang digunakan untuk mendeteksi tingkat kelembaban suatu lokasi. Pengukuran Tingkat Kelembaban ini sangat penting untuk pengamatan lingkungan di suatu wilayah, diagnosa medis ataupun di penyimpanan produk-produk yang sensitif.


j.    Sel Beban (Load Cell)

Sel Beban atau Load Cell adalah jenis sensor yang digunakan untuk mengukur berat. Input dari Load Cell ini adalah gaya atau tekanan sedangkan outputnya adalah nilai tegangan listrik. Ada beberapa jenis Load Cell, diantaranya adalah Beam Load Cell, Single Point Load Cell dan Compression Load Cell.

 

Kemajuan dan pembangunan dalam bidang apapun tidak dapat dilepaskan dari kemajuan teknologi, revolusi industri didorong oleh penemuan mesin mesin dan cara cara baru dalam bidang teknologi

 

Perkembangan Teknologi Fiber Optik Teknik Jaringan Komputer dan Telekomunikasi

 


1.   Mengenal Teknologi Fiber Optik

Teknologi Fiber Optik mulai ramai di Indonesia pada beberapa tahun terakhir, dan sudah banyak juga dari kita menggunakan layanan dari Telkom dalam Internet yang menggunakan teknologi Fiber Optik. Namun apakah kita sudah mengetahui apa itu Fiber Optik, mari kita simak.

 

Teknologi Fiber Optik pada awalnya digunakan untuk mengirim gambar (1950), hingga penelitian terus berlanjut dan saat ini dapat digunakan untuk mengirimkan informasi dalam bentuk gelombang cahaya.

Selain itu karena adanya Teknologi Fiber Optik kita bisa menggunakan layanan Internet yang berkecepatan tinggi, karena menggunakan kabel yang terbuat dari kaca atau plastik yang sangat halus. Transmisi yang dilakukan pada kabel fiber optik memiliki kecepatan yang tinggi karena sistem kerjanya menggunakan pembiasan cahaya.

 

2.   Mengenal Kabel Fiber Optik

Kabel Fiber Optik merupakan kabel yang dibuat menggunakan bahan dari kaca atau plastik sangat kecil yang memiliki ukuran 120 mikrometer, kabel ini dapat mentransmisikan data lebih cepat dari kabel lainya termasuk Coaxial ataupun Twisted Pair.

Kecepatan kabel fiber optik bisa mencapai 100Gbps dengan jarak hingga ribuan kilometer. Dan ini yang menjadi faktor saat ini bahwa ISP penyedia layanan internet kabel, memilih kabel fiber optik.

 

Jenis Kabel Fiber Optik



·       Fiber Optik Mode Tunggal (Single Mode)

Pada kabel ini memiliki transmisi tunggal, dan hanya bisa melakukan transmisi cahaya melalui satu inti dalam satu waktu.

Kabel ini memiliki ukuran sekitar 9 mikrometer, biasanya digunakan untuk menyebarkan cahaya dari sinar inframerah. Dengan panjang gelombang 1300 - 1500 nanometer.

·        Fiber Optik Mode Multi

Kabel Fiber Optik Mode Multi yaitu kebalikan dari kabel fiber optik yang mode tunggal. Pada kabel ini memiliki inti yang lebih besar, dengan ukuran sekitar 625 mikrometer.

Kabel mode ini bisa mentransmisikan banyak cahaya dalam satu waktu secara bersamaan, dan biasanya digunakan untuk tujuan komersil.

Kabel mode multi juga bisa mengirimkan sinar infrared mulai dari 850 - 1300 nano meter.

 

Tipe Kabel Fiber Optik

·       Armored Cable



·       Simplex Cable



·       Zipcord Cable



·       Low Smoke Zero Halogen



·       Hybrid & Composite Cable



·       Aerial Cable/Self-Supporting



·       Breakout Cable



·       Tight Buffer

 


Kelebihan dan Kekurangan Kabel Fiber Optik

 

Kelebihan Kabel Fiber Optik

1.     Transmisi data dengan kecepatan yang tinggi

2.     Bandwidth yang besar hingga  Gigabit

3.     Jangkauan wilayahnya yang luas

4.     Kabel lebih awet dari gangguan alam yang ekstrem

5.     Biaya perawatan yang murah

6.     Mampu menahan gangguan elektromagnetik

7.     Fitur keamanan yang kuat

 

Kekurangan Kabel Fiber Optik

1.     Harganya paling mahal dibandingkan jenis kabel lainnya

2.     Proses instalasi yang rumit

3.     Butuh investasi yang besar saat pemasangan

4.     Tidak sembarang teknisi bisa memperbaiki saat terjadi kerusakan.

 

3.   Fungsi Fiber Optik

Fiber Optik memiliki fungsi untuk menghubungkan antar komputer dalam satu jaringan yang sama. Namun Fiber Optik memiliki kelebihan dan keistimewaan sendiri, yaitu bisa memberikan akses maupun transfer data yang memiliki kecepatan yang tinggi. 

Selain itu serat optik memiliki ketahanan yang tinggi seperti tahan pada gangguan elektromagnetik, gangguan cuaca, karena serat optik tidak mengandung arus listrik.

 

4.   Cara Kerja Fiber Optik

Fiber Optik memiliki cara kerja yang cukup sama dengan kabel biasanya. Namun disini beda nya adalah Kabel Fiber Optik tidak menggunakan Arus Listrik untuk menyebarkan data, melainkan menggunakan Aliran Cahaya. Aliran Cahaya tersebut adalah konversi dari aliran listrik, jadi aman dari gangguan elektromagnetik.

Fiber Optik memanfaatkan serat kaca untuk mendapatkan refleksi cahaya yang tinggi, sehingga data bisa disebarkan dengan kecepatan yang optimal. Sumber refleksi tersebut dari cahaya yang berada pada serat kaca dengan sudut rendah.

 

Pada efisiensi fiber optik, jika semakin murni bahan, semakin murni gelasnya maka penyerapan cahaya juga semakin sedikit, oleh karena itu refleksi cahaya yang didapatkan akan tinggi hingga transmisi data semakin cepat / tinggi.

 

5. Mengenal Peralatan Pada Fiber Optik

Berikut ini merupakan alat-alat Fiber Optik yang digunakan dalam proses pemasangan jaringan. Berikut ini adalah seperangkat alat instalasi yang dipakai dalam memasang kabel fiber optik, dan juga ada beberapa macam jenis perangkat fiber optik yang dipakai sebagai berikut :


A. Fusion Splicer

Fusion Splicer digunakan untuk menyambungkan kabel optik. Dengan bantuan mesin las khusus sehingga proses penyambungan kabel optik dapat dilakukan secara otomatis.

 


B. Cleaver

Cleaver merupakan alat atau perlengkapan pada Fiber Optik, yaitu berguna untuk membuat potongan ujung kabel yang hampir sempurna.



 

C. Stripper

Miler Stripper digunakan untuk mengupas serat berlapis 250µm pada kabel fiber optik. Sehingga memastikan pengupasan mendapatkan hasil yang bersih dan rapih.



 

D. OPM (Optical Power Meter)

 

Optical Power Meter berguna untuk melakukan pengujian yang mengukur secara akurat yaitu lebih tepatnya pengujian pada kekuatan signal optik yang melewati kabel fiber.

 


Hal tersebut juga membantu dalam menentukan kehilangan daya yang terjadi pada sinyal optik saat melewati media optik. Pengukur daya optik terdiri dari sensor terkalibrasi yang mengukur rangkaian amplifier dan tampilan.

 

F.   OTDR (Optical Time Domain Reflectometer)

OTDR atau Optical Time Domain Reflectometer merupakan alat yang digunakan untuk melakukan pengukuran waktu pantulan cahaya dari kabel fiber. OTDR pada dasarnya menentukan karakteristik kabel fiber optik yang digunakan untuk merambat sinyal optik.



Selain itu juga masih ada beberapa peralatan pada Fiber Optik antara lain :

·Light Source





·Optical Fiber Identifier (OFI)



·Visual Fault Locator (VLF)